Halaman

Minggu, 15 Juli 2012

Variabilitas Hujan di Indonesia


Sebelumnya perlu kita ketahui apa sih cuaca dan iklim itu ??
Cuaca dan iklim merupakan dua kondisi yang hampir sama tetapi berbeda pengertian khususnya terhadap kurun waktu. 
Cuaca merupakan bentuk awal yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan kondisi fisik udara sesaat pada suatu lokasi dan suatu waktu, 
sedangkan iklim merupakan kondisi lanjutan dan merupakan kumpulan dari kondisi cuaca yang kemudian disusun dan dihitung dalam bentuk rata-rata kondisi cuaca dalam kurun waktu tertentu (Winarso, 2003). 
Menurut Rafi’i (1995) Ilmu cuaca atau meteorologi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji peristiwa-peristiwa cuaca dalam jangka waktu dan ruang terbatas, sedangkan ilmu iklim atau klimatologi adalah ilmu pengetahuan yang juga mengkaji tentang gejala-gejala cuaca tetapi sifat-sifat dan gejala-gejala tersebut mempunyai sifat umum dalam jangka waktu dan daerah yang luas di atmosfer permukaan bumi. 
Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan kombinasi dari variabel-variabel atmosfer yang sama yang disebut unsur-unsur iklim. Unsur-unsur iklim ini terdiri dari radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara, awan, presipitasi, evaporasi, tekanan udara dan angin. 
Unsur-unsur ini berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang disebabkan oleh adanya pengendali-pengendali iklim. Pengendali iklim atau faktor yang dominan menentukan perbedaan iklim antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain menurut Lakitan (2002) adalah:
  1.  posisi relatif terhadap garis edar matahari (posisi lintang), 
  2.  keberadaan lautan atau permukaan airnya, 
  3.  pola arah angin,
  4.  rupa permukaan daratan bumi, dan
  5.  kerapatan dan jenis vegetasi.

Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis katulistiwa serta dikelilingi oleh dua samudra dan dua benua. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi meridional (Utara-Selatan) dikenal sebagai Sirkulasi Hadley dan sirkulasi zonal (Timur-Barat) dikenal sebagai Sirkulasi Walker, dua sirkulasi yang sangat mempengaruhi keragaman iklim di Indonesia. Pergerakan matahari yang berpindah dari 23.5o Lintang Utara ke 23.5o Lintang Selatan sepanjang tahun mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson yang juga ikut berperan dalam mempengaruhi keragaman iklim. 
Pengaruh lokal terhadap keragaman iklim juga tidak dapat diabaikan, karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentuk topografi sangat beragam menyebabkan sistem golakan lokal cukup dominan. 
Faktor lain yang diperkirakan ikut berpengaruh terhadap keragaman iklim di Indonesia ialah gangguan siklon tropis. Semua aktivitas dan sistem ini berlangsung secara bersamaan sepanjang tahun akan tetapi besar pengaruh dari masing-masing aktivitas atau sistem tersebut tidak sama dan dapat berubah dari tahun ke tahun (Boer, 2003).
Fenomena El-Nino dan La-Nina merupakan salah satu akibat dari penyimpangan iklim. Fenomena ini akan menyebabkan penurunan dan peningkatan jumlah curah hujan untuk beberapa daerah di Indonesia khususnya di Indonesia bagian Timur. Menurut Boer (2003) sejak tahun 1844 Indonesia telah mengalami kejadian kekeringan atau jumlah curah hujan di bawah rata-rata normal tidak kurang dari 43 kali. Dari 43 kali kejadian tersebut hanya 6 kali kejadiannya tidak bersamaan dengan kejadian fenomena El-Nino, hal ini menunjukkan bahwa keragaman hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena ini.
Menurut peneliti Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi seperti yang diungkapkan oleh Irianto (2003) bahwa dampak dari fenomena El-Nino menyebabkan penurunan jumlah curah hujan musim hujan, musim kemarau, awal musim kemarau lebih cepat dan awal musim hujan lebih lambat. Irianto, dkk (2000) juga mengungkapkan bahwa pada saat fenomena El-Nino terjadi, curah hujan untuk wilayah Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami penurunan jumlah hujan yang mencapai 60% dari rata-rata curah hujan normal. Berbeda dengan El-Nino, pada saat fenomena La-Nina berlangsung menurut Effendy (2001) akan meningkatkan jumlah curah hujan tahunan sekitar 50 mm dari curah hujan rata-rata normal, dimana saat bulan Desember, Januari dan Februari curah hujan meningkat sangat nyata. Irianto, dkk (2000) mengatakan bahwa pada saat fenomena La-Nina terjadi di Pulau Jawa curah hujan meningkat sampai 140%, sedangkan di Pulau Sumatra dan Kalimantan peningkatannya mencapai 120%. Boer (2003) juga mengatakan bahwa La-Nina berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah curah hujan pada musim kemarau dari pada jumlah hujan pada saat musim hujan.
Liong, dkk (2003) mengatakan bahwa pengaruh ENSO cukup kuat untuk berbagai tempat di Indonesia. Dengan melihat anomali SST pada Niño 3.4, perioda 1961 sd 2001 wilayah Maritime Continent bagian timur mempunyai koefisien korelasi sekitar –0,6 pada waktu terjadi El Niño sedangkan wilayah NAIM (North Australia-Indonesian Monsoon) hanya sekitar –0,3. Untuk wilayah Maritime Continent bagian barat dan SEAM (South East Asia Monsoon) masih belum ada kesimpulan yang jelas karena ada yang berkorelasi –0.7 untuk Padang pada tahun El Niño 97/98 tetapi berkorelasi –0.2 pada tahun El Niño 82/83 demikian juga untuk Medan berkorelasi –0.45 pada tahun 97/98 tetapi berkorelasi 0.11 pada tahun 82/83, sehingga dapat dikatakan korelasinya dengan El Niño sangat lemah. Untuk Maritime Continent barat khususnya Jawa Barat dan Sumatra Selatan pengaruh IOD diperhitungkan. Pada umumnya ketika terjadi El Niño, DMI (Dipole Mode Index) positif sehinga efeknya saling memperkuat tetapi ada kasus ketika bukan tahun El Niño Indonesia kering, ternyata ketika itu DMI positif, jadi tahun Indonesia kering ketika bukan tahun El Niño dapat dijelaskan dari pengaruh IOD. Menurut Hendon (2003) dalam Aldrian dan Susanto (2003) variabilitas SST di Niño 3.4 diperkirakan mempengaruhi 50% variasi curah hujan seluruh Indonesia, sedangkan variabilitas SST di Samudera Hindia hanya mempengaruhi 10-15% curah hujan di seluruh Indonesia.
Pengaruh fenomena El-Nino terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. Pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang berpola hujan moonson, lemah pada daerah berpola hujan equatorial dan tidak jelas pada daerah dengan pola hujan lokal (Tjasyono, 1997 dalam Irianto, dkk., 2000), sedangkan IOD hanya berpengaruh jelas pada daerah berpola hujan monson (Nugroho andYatini, 2007).
Selain akibat pengaruh fluktuasi suhu permukaan laut di samudera pasifik dan Samudera Hindia (ENSO dan IOD), fenomena fase aktif osilasi intra-musiman yg dikenal sebagai MJO (Madden-Julian Oscillation) juga mempengaruhi variabilitas hujan di Indonesia. MJO adalah osilasi/gelombang tekanan (pola tekanan tinggi-tekanan rendah) dengan periode lebih kurang 48 hari yang menjalar dari barat ke timur. Biasanya berawal di pantai timur Afrika kemudian menjalar ke timur dan menghilang di bagian tengah Pasifik . Menurut Geerts and Wheeler (1998) MJO akan menyebabkan terjadinya variasi pada pola angin, suhu permukaan laut (SPL), awan dan hujan. fase aktif MJO bila bersamaan waktunya dengan dengan musim hujan (Desember, Januari dan Februari) atau angin munsoon barat dapat menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan sekitar 200%.gambar di bawah menunjukkan pergerakan pola hujan serta anomalinya pada daerah-daerah yang dilewati oleh MJO.

Minggu, 08 April 2012

Teknik Membuat Prakicu Mingguan

Parameter :

Analisa Global :
- Suhu Muka Laut
- SOI
- Dipole Mode
- MJO
- Surge Indeks ( Untuk angin baratan)

Analisa Synoptik :
- Prakiraan tekanan udara ( 7 hari kedepan )
- Prakiraan angin 850 mb - 500 mb ( 7 hari kedepan )
- Prakiraan kelembaban udara 850-700 mb ( 7 hari kedepan )

Analisa Lokal :
- Melihat data curah hujan 1 atau 2 minggu yang lalu
- Prakiraan K-Index / L- Index / Showalter Index 

Senin, 26 September 2011

finy alya napitupulu


HAPPY BIRTHDAY FINY ALYA NAPITUPULU  ( ˘)з┌◦◦◦♥

HAPPY BIRTHDAY FINY, HAPPY BIRTHDAY FINY,
HAPPY BIRHTDAY HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY FINY.
SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA. SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA.
SARANGHAE NUN FOR AMANDA. SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA.
SELAMAT ULANG TAHUN. SELAMAT ULANG TAHUN.
SELAMAT ULANG TAHUN FINY ALYA NAPITUPULU


sumber foto : finy alya napitupulu

gue nyanyi2 sendiri di kamar kost gue, tiup lilin sendiri, potong kue sendiri, makan kue sendiri, ngasih ucapan selamat juga buat diri sendiri. 

Mungkin salah satu faktor yang bikin gue gak excited sama ulang tahun gue adalah umur gue yang bertambah tua tapi gue sama sekali belom bisa melakukan sesuatu yang sepertinya bisa dikatakan berguna.

kebanyakan klo pada ultah ngerayain ato hangout bareng temen2nya, kalo gue lebih suka sendiri. emang seru siy klo bersama temen2 dibanding sendiri merenung seperti gak punya siapa2 dan itu sungguh sangat miris. tapi itulah gue, bukan karena gue pelit dan gak mau ngeluarin se sen pun buat temen2 gue. tp inilah gue degan kesederhanaan gue.

Kalo orang-orang biasanya bikin resolusi tahunan itu setiap malam tahun baru, kalo gue lebih suka bikin resolusi tahunan gue tepat di hari ulang tahun gue, karena menurut gue itu lebih enak aja, dimana kita bikin target untuk 1 tahun sampai umur kita bertambah lagi. sebenernya ada satu keinginan yang bener-bener pengen gue capai tahun ini, tapi entah gue gak berpikir kalo itu bisa gue gapai dalam satu tahun jadi gue pun mengubahnya jadi REPELITA (REsolusi LIma TAhunan), dan resolusi gue tahun ini adalah bisa jadi wanita sukses yang bijak, baik itu karir, pendidikan, juga pasangan.




.